Metode Istiqomah (suatu kajian teoritis tentang pedoman dalam mendidik dan melatih)

METODE ISTIQOMAH

(Suatu  kajian teoritis tentang pedoman dalam mendidik dan melatih)

Oleh   :  Sri Sudaryanti

 

Abstrak

Dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 dijelaskan bahwa tujuan Standar Kompetensi Lulusan pada Satuan Pendidikan Menengah Kejuruan  adalah   : “Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.”   Untuk mewujudkan tujuan tersebut diperlukan seorang pendidik yang memiliki kualifikasi akademik dan memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran (Learning Agent).

.    Sebagai alternative pilihan bagi para pendidik, penyusun mencoba mensosialisasikan pedoman untuk mengelola proses pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan tersebut  dari B.S. Wibowo, dkk.  Yang oleh Beliau dirangkai dalam satu akronim yang penuh makna  yaitu ISTIQOMAH.

 

Pendahuluan

Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan .  Sikap, pengetahuan, dan keterampilan lulusan yang diharapkan disesuaikan dengan karakteristik dari masing-masing satuan pendidikan.

Tujuan Standar Kompetensi Lulusan pada Satuan Pendidikan Menengah Kejuruan adalah  :  “Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.”     Dari tujuan tersebut tersirat bahwa Satuan Pendidikan Menengah Kejuruan  ingin :

1.    Membentuk Sikap (Attitude) lulusan agar memiliki kepribadian dan akhlak mulia.

2.    Membekali Pengetahuan (Kognitif) lulusan  untuk mewujudkan  tingkat kecerdasan sehingga dapat  memiliki kedewasaan berfikir dan dapat mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

3.    Melatih Keterampilan (Psikomotorik) lulusan sesuai dengan kejuruan yang dipilihnya agar mampu hidup mandiri.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut sangat diperlukan seorang pendidik yang mampu berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu, dan pemberi inspirasi belajar bagi para peserta didik.

Dari permasalahan di atas, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut  :

“Usaha apakah yang dapat dilakukan seorang pendidik dalam mewujudkan proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, melibatkan peran aktif peserta didik dll.  seperti yang diharapkan dalam standar proses sehingga tujuan Standar Kompetensi Lulusan dapat tercapai ?”

 

Standar Pendidik

Pendidik yang diharapkan dalam Standar Nasional Pendidikan  adalah yang  memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Kualifikasi Akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.   Sedangkan Kompetensi sebagai agen pembelajaran  (Learning Agent) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi  :

1.     Kompetensi pedagogik

Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

.

2.     Kompetensi kepribadian

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa,   arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan  berakhlak mulia.

 

3.     Kompetensi profesional

Kompetensi Profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan

 

4.     Kompetensi sosial.

Kompetensi Sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Menurut pendapat penyusun  dari  keempat kompetensi pendidik di atas, yang langsung berpengaruh terhadap pencapaian tujuan Standar Kompetensi Lulusan untuk aspek pengetahuan dan keterampilan adalah  kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional.  Dalam kompetensi pedagogik seorang pendidik dituntut untuk mampu mengelola proses pembelajaran peserta didik, sedangkan dalam kompetensi profesional seorang pendidik dituntut untuk menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam sehingga memungkinkan untuk membimbing peserta didik dalam mencapai standar kompetensi lulusan.

Pada hakekatnya agar proses pencapaian tujuan dapat terealisasi dengan efektif dan efisien, maka seorang pendidik selain memiliki kompetensi profesional juga perlu diimbangi dengan kompetensi pedagogik.  Sepandai apapun seorang pendidik menguasai suatu materi pembelajaran tetapi kalau tidak mampu mengelola materi tersebut menjadi suatu proses pembelajaran, maka hal ini jelas akan menghambat proses pentransferan ilmu kepada peserta didik.  Kemampuan berfikir tanpa disertai dengan kemampuan berkomunikasi adalah sia-sia.

Sedangkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan aspek sikap, diperlukan  seorang pendidik yang memiliki kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.  Seorang pendidik dalam membentuk sikap peserta didik harus terlebih dahulu dapat memberikan contoh sikap yang dapat diteladani oleh para peserta didik dan agar semua tujuan yang diharapkan dapat tercapai, maka seorang pendidik harus kompeten dalam berkomunikasi.

Proses pembelajaran yang sesuai dengan standar nasional pendidikan adalah proses pembelajaran yang diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Salah satu upaya untuk mewujudkan proses pembelajaran tersebut yaitu dengan memiliki keterampilan dalam mengelola proses pembelajaran dari mulai perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, refleksi sampai tindak lanjut pembelajaran.   Dalam kesempatan ini, penyusun akan mencoba mensosialisasikan beberapa kriteria sebagai pedoman dalam mengelola proses pembelajaran yang tepat.   Pedoman ini dicetuskan oleh B.S. Wibowo, dkk. dalam bukunya Sharpening Our Concept and Tools. Pedoman tersebut oleh Beliau dirangkum dalam sebuah akronim dengan sebutan ISTIQOMAH.

 

Metode ISTIQOMAH

Kata ”Istiqomah” kalau kita tinjau dari sudut bahasa berarti konsisten, tetap atau teguh pendirian. Jadi metode istiqomah maksudnya adalah suatu metode yang perlu dilakukan secara konsisten untuk menghasilkan apa yang diharapkan. Sedangkan B.S. wibowo,dkk., mengartikan istilah Istiqomah ini menjadi sebuah akronim yang penuh makna. Istilah istiqomah terbentuk dari rangkaian kata-kata sebagai berikut  :  ”Imagination, Student Centre, Technology, Intervention, Question and Answers, Organization, Motivation, Application, Hearth”.  Metode Istiqomah ini oleh Beliau dijadikan sebagai pedoman untuk melatih, mengajar, mendidik, dan menyiapkan orang.

Jadi sesuai dengan makna yang tersirat dari istilah tersebut dan penyusun gabungkan dengan akronim istiqpmah, dapatlah disimpulkan bahwa metode istiqomah yang dicetuskan oleh B.S. Wibowo, dkk. sebagai pedoman untuk melatih, mengajar, mendidik, dan menyiapkan orang,  tidak akan efektif apabila tidak dilaksanakan secara konsisten.

Di bawah ini akan penyusun uraikan kata demi kata dari istilah istiqomah yang dicetuskan oleh B.S.Wibowo,dkk.  Mudah-mudahan dapat dipahami maksudnya sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman bagi para pendidik dalam rangka membimbing para peserta didiknya.

1.     Imagination

Sebagai seorang motivator dan pemacu, seorang pendidik harus mampu membangkitkan imajinasi peserta didik jauh ke depan tentang ilmu yang akan mereka terima.  Cara yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik, yaitu dengan menjelaskan manfaat ilmu untuk kehidupan mereka saat ini maupun masa depan mereka.  Contoh  :  bangkitkanlah imajinasi mereka, misalnya dengan terampil Komputer segala pekerjaan sulit akan terasa menjadi ringan dan mudah, dengan memahami operasi internet dengan mudah  kita dapat mengakses  dan menjelajah dunia,  dengan menguasai bahasa asing, dengan mudah kita dapat  go internasional dll.

Seorang akhli yang bernama A. Einstein mengatakan  :  ”Imagination is more important than knowledge”

 

2.     Student Centre

Pendidik sebaiknya pada saat mentransfer ilmu kepada paserta didik,harus trampil memilih metode yang tepat sehingga peserta didik dapat berpartisipasi aktif dalam proses belajar.

Pilihan metode yang dapat digunakan agar peserta didik dapat berpartisipasi aktif  di antaranya  :

a.    Buzz Group

Dalam metode ini peserta didik dalam satu kelas dipecah menjadi beberapa kelompok kecil.  Berilah kelompok-kelompok kecil tersebut suatu kasus, dan biarkanlah mereka aktif mengatasi kasus tersebut. Peran Pendidik hanyalah sebagai Fasilitator.

b.    Brainstorming

Dalam metode ini pancing peserta didik agar dapat mengerahkan segala kemampuannya untuk memberikan pendapat, mengatasi masalah yang muncul selama proses pembelajaran, dll.  Biarkan mereka aktif belajar mengatasi masalah.  Di akhir kegiatan, baru pendidik sebagai fasilitator menyimpulkan masalah.  Hasil kesimpulan merupakan ilmu bagi mereka.

c.    Simulasi

Dalam metode ini peserta didik bermain peran untuk mengatasi masalah yang dihadapi dengan lay-out ruangan kerja yang sebenarnya.  Misalnya : studi kasus tentang masalah yang muncul dalam menjalankan tugas sebagai resepsionis,  maka lay-out diatur sedemikian rupa seperti riuangan resepsionis dan peserta didik bermain peran untuk mengatasi kasus tersebut.

d.    Presentasi

Dalam metode ini peserta didik dilatih aktif untuk mengemukakan ide dan ilmu yang didapatkannya kepada orang lain secara lisan

e.    Dan masih banyak metode pembelajaran  dengan orientasi student centre yang dapat dikembangkan

 

3.     Technology

Pendidik sebaiknya dapat mengajar dengan memanfaatkan teknologi multi media, sehingga dapat membuat peserta didik senang dalam belajar dan informasi dapat dengan mudah dipanggil kembali.      B.S. Wibowo mengatakan     :    ”Learning will be effective if they get flow, fun, and enjoy.”

Agar suasana belajar menyenangkan dan para peserta didik menikmatinya, maka saran-saran di bawah ini dapat dijadikan bahan pertimbangan   :

a.    Kurangi kebiasaan mentransfer ilmu dengan komunikasi satu arah

b.    Gunakan media pembelajaran yang variatif sehingga dapat melibatkan panca indera dan emosi dari peserta didik.  Contoh misalnya : penggunaan modul interaktif, pemanfaatan internet sebagai sumber belajar, pemaparan materi menggunakan fasilitas in-focus dan/atau OHP dll.

 

4.     Intervention

Pendidik harus mampu mengaktifkan peserta didik secara dinamis dengan merancang dan memprogram pengalaman belajar peserta didik.  Guru terbaik adalah pengalaman.  Biarkanlah peserta didik belajar dari pengalamannya sendiri.   Seluruh alam (tidak dibatasi empat buah dinding tembok) adalah  ruang kelas.

Metode pembelajaran yang tepat menurut B.S. Wibowo adalah  :

a.    Studi Kasus

Dalam metode ini peserta didik diberikan suatu kasus, mereka diberi kebebasan untuk melakukan problem solving sesuai dengan pengalaman belajar masing-masing.

b.    Games

Dalam metode ini peserta didik melakukan proses pembelajaran untuk membentuk suatu konsep  dengan melakukan suatu permainan.

c.    Simulasi

Dalam metode ini peserta didik melakukan proses pembelajaran dengan cara bermain peran.

d.    Outbound

Dalam metode ini peserta didik melakukan proses pembelajaran dengan alam semesta sebagai ruang kelasnya.

 

5.     Question and Answers

Pendidik sebaiknya mampu mengajar dengan cara mendorong rasa ingin tahu, merumuskan pernyataan rasa ingin tahu, merancang cara menjawab rasa ingin tahu, dan bagaimana cara menemukan jawaban.   Jawaban akhir adalah ilmu.  Ilmu adalah perbendaharaan, dan kuncinya adalah pertanyaan.

Ikan tidak penting bagi peserta didik, tetapi bagaimana cara mendapatkan ikan tentu itu yang akan lebih bermanfaat bagi kehidupan peserta didik.

Metode pembelajaran yang tepat misalnya menggunakan metode inquiry.  Dalam metode inquiry, peserta didik disyaratkan untuk terlibat secara aktif menjelaskan secara rasional dan  ilmiah fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu.  Langkah-langkah yang dilakukan dalam menerapkan metode ini adalah  :

a.      Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena.

b.      Melakukan langkah-langkah pemecahan masalah secara ilmiah dan rasional, misalnya menganalisis, melakukan percobaan, dan mengevaluasi

c.      Merumuskan jawaban sebagai ilmu.

Jadi titik berat pembelajarannya yaitu bagaimana cara mendapatkan ilmu bukan ilmunya.

 

 

 

6.     Organization

Pendidik yang baik adalah yang selalu mengontrol pengorganisasian ilmu yang telah diperoleh oleh peserta didik.  Beberapa hal yang perlu diperhatikan  :

a.    Hindari banyak belajar namun melupakan pelajaran masa lalu.

b.    Usahakan untuk mengaitkan kompetensi yang baru dengan kompetensi sebelumnya, sehingga kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik dapat meningkat dan lebih berkualitas.

c.    Karena daya ingat yang terbatas, upayakan peserta didik memiliki catatan yang rapi, rinci, dan mudah diakses.

 

7.     Motivation

Pendidik hendaknya mampu memberikan stimulasi yang dapat membangkitkan motivasi peserta didik untuk belajar.  Saran-saran yang dapat dipertimbangkan  :

a.    Informasikan manfaat ilmu yang dipelajari kepada para peserta didik

b.    Usahakan penggunaan metode pembelajaran yang variatif dengan mengacu pada model pembelajaran Learning by Doing, terutama pilihlah metode yang dapat memantapkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kejuruan yang dibutuhkan dunia kerja.

c.    Karena motivasi sangat dipengaruhi oleh emosi, maka   :

1)    Sekali-kali rangsanglah mereka dengan pujian dan hadiah

2)    Hindari mempermalukan mereka di depan umum

3)    Hargailah pendapat mereka sekecil apapun

 

8.     Application

Pendidik yang baik harus dapat membantu peserta didik dalam menerapkan ilmu pengetahuan pada dunia praktis atau bahkan dapat mengembangkan aplikasi ilmu tersebut dalam berbagai bidang kehidupan.  Pendidik jangan hanya sebagai pentransfer ilmu tanpa makna.  Bimbinglah mereka untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh.    Metode yang dianggap sesuai untuk dipilih yaitu metode pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning).

Metode Contextual Teaching and Learning  :

a.    Merupakan proses pembelajaran yang bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.

b.    Merupakan proses pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik  membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.

9.     Hearth

Pendidik harus mampu mendidik dengan turut menyertakan nilai-nilai spiritual ke dalam hati nurani para peserta didik, karena ini merupakan faktor yang paling mendasar untuk kesuksesan jangka panjang.  Dalam mendidik, pendidik harus dapat menyisipkan pesan-pesan moral yang dapat membentuk sikap positif peserta didik, misalnya  : kejujuran dalam sikap dan perbuatan, tanggung jawab, disiplin dalam bekerja, menepati janji, sopan santun dalam bergaul, dan lain-lain pesan moral yang bermanfaat  bagi para peserta didik.  Nilai-nilai spiritual semacam ini sangat besar sekali peranannya dalam upaya mewujudkan tujuan standar kompetensi lulusan untuk aspek sikap.

Untuk para lulusan Sekolah Menengah Kejuruan, pembentukan sikap-sikap positif sejak awal sangat diperlukan sekali karena selain dipersiapkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,    mereka juga dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja yang penuh tantangan baik itu sebagai pencari kerja maupun sebagai pencipta kerja.

 

Kaitan antara standar pendidik dengan metode istiqomah dalam pencapaian tujuan standar kompetensi lulusan

Dari uraian sebelumnya, tersirat bahwa tujuan standar kompetensi lulusan yaitu ingin menghasilkan lulusan yang memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang sesuai dengan kejuruan yang dipilihnya.   Berhasil tidaknya tujuan tersebut, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor di  antaranya faktor  pendidik.

Sebaik apapun tujuan yang ingin dicapai tidak akan ada artinya apabila seorang pendidik tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai fasilitator, motivator dan pemacu kreativitas peserta didik.  Sebelas penyakit menular yang sering menyerang para pendidik  menurut Menteri Pendidikan Nasional kita yaitu  :

1.     Tipus          :  tidak punya selera

2.     Mual           :  mutu amat lemah

3.     Kudis         : kurang disiplin

4.     Asma        : asal masuk kelas

5.     Kusta        : kurang strategi

6.     TBC          : tidak bisa computer alias gagap teknologi

7.     Kram         : kurang terampil

8.     Asam Urat  : asal sampaikan materi urutan kurang akurat

9.     Lesu          : lemah sumber

10.  Diare         :  di kelas anak-anak meremehkan

11.  Ginjal        :  gajinya nihil,  jarang aktif  dan lambat

Bila dibiarkan menjadi sikap para pendidik dalam membimbing para peserta didiknya, jelas sekali hal ini akan menjadi faktor utama terhambatnya pencapaian tujuan.

Lain halnya,  apabila Metode Istiqomah yang disosialisasikan oleh B.S. Wibowo dilaksanakan secara tetap, berkesinambungan, dan konsisten dalam membimbing, mendidik dan  melatih para peserta didik, insya Allah proses pembelajaran dapat menjadi lebih bermakna khususnya bagi para lulusan.   Pencapaian aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kejuruan yang dipilih oleh peserta didik betul-betul dapat terwujud.

 

Penutup

Dari kajian teoritis di atas  dan berdasarkan pengalaman di lapangan, maka dapatlah disimpulkan bahwa  usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam mewujudkan proses pembelajaran sesuai dengan standar proses adalah dengan menerapkan pedoman yang dicetuskan oleh B.S. Wibowo yaitu metode Istiqomah.  Mengapa penyusun menyimpulkan demikian  ?  Karena kalau kita telaah kata demi kata dari istilah tersebut,  semuanya menyarankan proses pembelajaran secara aktif dilakukan oleh peserta didik, posisi pendidik hanyalah sebagai  fasilitator, motivator, pemacu dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.   Sehingga apabila para peserta didik diposisikan   demikian, maka akan terwujud proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.  Apabila proses pembelajaran sudah sesuai dengan standar proses, maka akan lebih memungkinkan untuk mewujudkan tercapainya tujuan standar kompetensi lulusan.

Beberapa saran yang dapat penyusun anjurkan  khususnya kepada para pendidik yaitu  :

1.     Jadilah pendidik yang penuh semangat dalam mencerdaskan peserta didik

2.     Jadikanlah metode istiqomah sebagai pedoman untuk melatih, mengajar  dan  mendidik peserta didik

3.     Hindari sebelas penyakit menular yang dikemukan oleh Menteri Pendidikan Nasional, yaitu  : tidak punya selera (tipus), mutu amat lemah (mual), kurang disiplin (kudis), asal masuk kelas (asma), kurang strategi (kusta), tidak bisa computer alias gagap teknologi (TBC), kurang terampil (kram), asal sampaikan materi urutan kurang akurat (asam urat), lemah sumber  (lesu), di kelas anak-anak meremehkan (diare), gajinya nihil, jarang aktif dan lambat (ginjal)

4.     Sebagai Pendidik yang profesional, teruslah berusaha mencari terobosan baru terutama dalam penggunaan metode dan media pembelajaran yang variatif

5.     Tingkatkan terus kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial agar dapat memberikan pelayanan prima kepada peserta didik

6.     Bersikap terbuka terhadap segala perkembangan ilmu

7.     Jadwalkanlah kegiatan diskusi dengan sesama pendidik untuk membahas masalah-masalah yang mungkin muncul saat melakukan proses pembelajaran

8.     Biasakanlah untuk melakukan penelitian tindakan kelas agar kita dapat melakukan refleksi.

 

 

 

Daftar Pustaka  :

Bandono. 2008.  Menyusun Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Artikel  :  bandono.web.id

 

B.S. Wibowo,dkk. 2002.  Sharpening Our Concept and Tools, Kiat praktis   manajemen Pengembangan SDM. Bandung : PT Syaamil Cipta Media

 

 

Joko Sutrisno, S.Si., M.Pd. 2008.  Pengaruh Metode Pembelajaran Inquiry dalam Belajar Sains terhadap Motivasi Belajar Siswa. Artikel : Internet

————.Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta.

Biodata Singkat  :

Penyusun adalah guru dpk kompetensi keahlian Administrasi Perkantoran di SMK PGRI 2 Cimahi dan Alumni IKIP Bandung jurusan Pendidikan Management Tahun 1986.

 

 

 

 

.

 

 

This entry was posted in categories. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s